Pada hari Minggu, 5 Juli 2020, telah diadakan seri metodologi riset oleh Peneleh Research Institute. Sejumlah 187 peserta mendaftar untuk mengikuti acara ini, baik melalui zoom maupun youtube.

Dramaturgi pada dasarnya adalah metodologi yang mendasarkan pada asumsi bahwa realitas adalah permainan kesan oleh aktor-aktor di salamnya. Metodologi dan metode riset yang diusulkan oleh Erving Goffman dibahas secara detil pada acara ini.

Infaq dari peserta untuk mendapatkan e-sertifikat disalurkan untuk pembangunan masjid dan pusat pembelajaran di Orong Telu, Sumbawa.

Beberapa pertanyaan yang belum terjawab melalui webinar kami tampilkan di sini beserta jawaban:

Tanya (Ermi – STIE Dewantara Jombang): Assalamu’alaikum….terima kasih share ilmunya Bu Ari. Kalau kita mau meneliti tentang perilaku seorang konsumen dalam pembelian apakah bisa?

Jawab: Alaikumsalam..Tentu bisa, seperti yang telah disampaikan, selama seorang peneliti melihat bahwa interaksi sosial adalah “panggung” di mana semua pihak bermain peran, maka dramaturgi dapat digunakan sebagai metodologi

Tanya (Fadliah Nas): Assalamu alaikum wrwb, terima kasih ilmunya bu Ari, mau nanya jika kami ingin melakukan riset tentang kualitas hasil audit, metode dramaturgi apa yang lebih tepat digunakan, wassalam.

Jawab: Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mungkin tepatnya analisis dramaturgi apa yang digunakan, dan jawabannya lebih pada akses yang bisa ibu dapatkan di situs- apakah mungkin sampai masuk ke backstage? Jika ya, bisa menggunakan Analisis Region dan Perilaku Region, impression management, dll.

Tanya (Nina Yusnita Yamin): Sy sering ditanyakan sama teman2, khususnya dari “aliran” Positivism, Mengapa Penelitian quantitative lebih lazim menggunakan research context daripada background of research…?….Bantuin jawab yah Bu Ari…ntar dikirimi sayur kelor…. hehehe…makasih

Jawab: Saya kebanyakan makan sayur kelor- jadi bolak balik main ke Sulawesi 🙂 :). Mungkin maksudnya penelitian kualitatif menggunakan research context ya? Pada dasarnya memang penelitian kualitatif tidak bertujuan menggeneralisasi- konteks sendiri terikat pada “kebenaran” pada tempat dan waktu tertentu- maka tentu research context menjadi sangat penting.

Tanya (Ruri Octari): Assalamualaikum, bu saya ingin bertanya, untuk penelitian dramaturgi khususnya akuntansi, di dalam tata cara penulisannya apakah di awal penelitian kita boleh menjelaskan sedikit temuan yang akan diungkap? atau dibiarkan berjalan dulu sesuai analisis dramaturgi baru kemudian kita tarik kesimpulannya? dan ciri2 penelitian dramaturgi yang baik itu seperti apa bu? Terima kasih, wassalamualaikum.

Jawab: Alaikumsalam. Terpenting saat menyajikan pendahuluan adalah memastikan bahwa positioning kita sebagai seorang dramaturgis masuk ke dalam tulisan. Artinya, pandangan kita bahwa semua sedang bermain peran, menjadi hal penting untuk diungkap. Saat penyajian hasil seperti yang saya jelaskan tadi bisa saja per adegan/penampilan disajikan sebagai satu bab dan dijelaskan langsung sesuai analisis yang dipakai- apakah itu front dan lain-lain.

Tanya (Mohammad Syafik): Assalamualaikum wr.wb. Izin tanya bu
bagaimana menerapkan daramaturgi terhadap keilmuan Akuntansi?? Sedangkan sepahaman saya tadi dramaturgi berhubungan dengan tindakan manusia. Apakah respon pasar bisa diartikan sebagai daramaturgi, contohnya naiknya harga saham meningkatkan jumlah investor pada perusahaan.

Jawab: Alaikumsalam. Untuk kajian akuntansi pasar modal, daramaturgi dapat dipakai selama peneliti memiliki akses atas interaksi yang terjadi selama transaski pembelian/penjualan saham. Misal- peneliti menggunakan dramaturgi untuk melihat apa yang membuat seorang memutuskan untuk menjual, atau bagaimana broker merayu investor untuk membeli. Namun tentu tidak bisa dilakukan kalau bekal peneliti hanya data sekunder nilai saham saja.

Tanya (Monika Handayani): Assalamualaikum. Wr.Wb, ibu Ari mau tanya, di awal ibu Ari menjelaskan bahwa Dramaturgi masuk ranah interpretif, namun berkembang ke kritis dan bahkan posmodern, pertanyaannya apakah metode dramaturgi bisa masuk ke 3 ranah tersebut dan apa yang membedakannya?

Jawab: Alaikumsalam. Yang membedakan: asumsi dasar tentang realitas dan tujuan penelitian. Frame Analysis misal, sama dari Goffman namun di tahun 1974, lebih melihat bahwa realitas adalah hasil “penipuan”- maka ini beda dengan asumsi yang digunakan Dramaturgi di awal usulannya 1956.

Tanya (Bertha Beloan): Bu mau tanya, tadi di jelaskan 6 analisis untuk dramaturgi. apakah mungkin menggabungkan 2 atau lebih dalam satu penelitian. Apakah bisa si peneliti kemudian menjadi aktor/pemain dalam penelitian yang coba dibangun, karena dalam theater terkadang penonton bisa ikut menjadi pemain secara tiba-tiba tanpa di setting

Jawab: Benar- sangat bisa. Perubahan peran disebut dengan “reframing” dalam dramaturgi- dan tentu ini boleh dan sebaiknya disampaikan di tulisan.

Tanya (Danish): Salam. mohon bertanya.. jadi apakah dramaturgy itu lininya hanya interpretif? dari ke 6 analisis sepertinya Hanya ingin menampilkan apa yg terjadi berdasarkan komponen2 analisisnya? Tentang asumsi: rasanya jelas bgt ini adalah empiris ttg manusia Dan relasi sosial. apakah dalam dramaturgy Kita dapat mempertanyakan kenapa si X ingin dilihat sbg X, kenapa si Y ingin dilihat sbg Y, dsb.. Mengenai hasil dari dramaturgy, apa berarti ini adalah penelitian yg sifatnya harus dipahami kontekstualitasnya. Kita harus melihtnya dlm konteks ruang Dan waktu empirisnya. kira2 apa yg ingin ditawarkan dramaturgy misalnya dlm meneliti akuntansi? Terima kasih banyak Bu Guru.. 🙏

Jawab: Sudah paham sepertinya Bu Danish ini. Dramaturgi (1956) hanya interpretif- namun peneliti dapat mengembangkan sesuai cara pandangnya. Goffman saja berubah kok di tahun 1974. Dan benar lagi, dramaturgi harus bersifat kontekstual.


Tanya (Ermi – STIE Dewantara Jombang): Ijin bertanya lagi Bu, dari penjelasan ibu, maka dalam suatu peneltian analisis dramaturgi yang bisa dipilih adalah yang paling sesuai dengan tema penelitian kita, begitu njih Bu?

Jawab: Benar, Bu Ermi

Tanya (Lilis Ardini): Assalamualaikum Bu Ari. Mhn ijin bertanya, peran peneliti disini bisa banyak peran atau hanya boleh salah satu peran (penonton, aktor) ? kemudian untuk ketajaman analisis yg bagaimana agar tidak terkesan bias atau biasa2 saja, ? matur nuwun bu Ari, kapan main STIESIA lagi.

Jawab: Alaikumsalam. Boleh berganti peran, asal disampaikan di lingkup penelitian- mengapa dan kapan peran berganti- karena pada kehidupan nyata kita juga selalu berganti peran- reframing. Yuk.. kapan ya ke STIESIA 🙂

Tanya (Nashrudin Latif) : Assalamu’alaikum Ibu Ari, Bagaimana kode etik peneliti saat menganalisis back stage dan front stage pada aktor yang memainkan sisi “dua muka”, dan pasca hasil penelitian? apakah dimungkinkan adanya konflik interest sebab ada sisi gelap yang diungkap? terima kasih

Jawab: Alaikumsalam. Jika memang kebenaran yang akan terungkap ini “menyakiti” informan- ada baiknya memang nama disamarkan karena kewajiban peneliti adalah melindungi informannya.

Tanya (Mirna Amirya): Assalamualaikum, Bu Ari jika kita berangkatnya dari pendekatan case study, ingin juga menampilkan fenomena dan dramaturgi. Bagaimana porsinya? terima kasih Oh iya bu juga tambahan kritis. Terima kasih

Jawab: Alaikumsalam. Case study pada dasarnya tidak memiliki metode “bawaan” karena terkait pada lingkup penelitian. Jadi tentu bisa saja dramaturgi digunakan untuk menelaah interaksi sosial- jika hendak menambahkan fenomenologi (ini kah maksud “fenomena”?) tentu seperti yang saya jelaskan- perlu ditelaah lagi apakah asumsi fenomenologi dan dramaturgi itu sama? Kalau tidak, kita sendiri yang bingung kebanyakan agenda penelitian :). Asumsi realitas yang berebda dapat mengarah pada pembentukan dramaturgi kritis- Coba baca Frame Analysis- rangkumannya ada di buku Metodologi Konstruktif Riset Akuntansi.

Materi dapat diunduh di sini

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *